Rabu, 31 Desember 2008

GENDIT & AUDITOR PEREMPUAN

Cris Kuntadi, MM, CPA

Pagi itu, Gendit mengerutkan dahinya tanda serius memikirkan sesuatu di ruanganya. Ya, kebutuhan auditor dalam pemeriksaan ke luar daerah menurut Rencana Kegiatan Pemeriksaan (RKP) sebanyak 28 orang (7 tim x 4 orang) tidak terpenuhi oleh unit kerjanya. Kekuatan auditor hanya 20 orang atau maksimal hanya bisa dibentuk menjadi lima tim. Upaya pencarian tambahan auditor dari unit kerja lain hanya mendapat empat orang dari Ditama Revbang sehingga kebutuhan sesuai RKP kurang satu tim.

Peristiwa tersebut juga pernah terjadi ketika Gendit di Kantor Perwakilan. Waktu itu, 15 dari 23 auditor baru yang dikirim Biro SDM berjenis kelamin perempuan. Walhasil, jumlah tim yang dapat dibentuk tidak maksimal karena tidak dapat menempatkan auditor wanita untuk keadaan tertentu seperti kondisi lapangan, beban kerja, dan kekuatan tim. Perwakilan tersebut kekurangan auditor akan tetapi banyak auditor (wanita) yang tidak memeriksa.

Saat berfikir kekurangan auditor tersebut, tiba-tiba, masuklah seorang auditor wanita sebut saja Rohani. “Maaf pak, bisa mengganggu sebentar?” Tanya Rohani.
“Mau konsultasi terkait pemahaman atas obyek pemeriksaan? Nanti Rohani akan memeriksa Kanwil Depkeu Bandung. Kalau dekat, sewaktu-waktu ada keperluan keluarga bisa mudah dijangkau.” Gendit berusaha mengakomodasikan kepentingan Rohani yang ada keperluan keluarga di Jakarta.

”Maaf pak, bukan itu. Saya mohon izin untuk tidak ikut pemeriksaan karena ada keperluan keluarga. Anak-anak saya kebetulan mau ujian sekolah sehingga harus ditungguin. Di samping itu, suami saya juga tidak mengijinkan saya dinas luar daerah. Kan wanita boleh bekerja asal tidak meninggalkan kewajiban sebagai ibu dan istri. Ya kan pak?” Rohani beralasan untuk tidak melakukan Pemeriksaan Setempat (PS) ke luar kota Jakarta.
Tok... tok... Pintu ruang diketok dan masuklah Monita ke ruang Gendit.
”Nuwun sewu pak. Saya mau mohon pertimbangan sekiranya saya tidak diikutkan dalam pemeriksaan ke luar kota. Anak saya masih bayi dan sampai sekarang masih harus disusui. Jika saya keluar kota, tidak ada yang bisa menyusui. Plis deh pak, boleh ya... Bapak akan mendapat pahala yang banyak kalau mengijinkan saya tidak PS.” Monita merayu untuk tidak PS ke luar kota.
Sebelum Gendit menjawab harapan kedua auditor wanita tersebut, masuklah auditor wanita lain, Harum namanya. Harum-pun menyampaikan permohonan untuk tidak PS ke luar kota karena lumpsum (uang harian) pemeriksaan ke luar kota lebih sedikit dibandingkan lumpsum dalam kota (DKI). Harum beralasan, memeriksa dalam kota lebih menguntungkan karena lumpsum lebih besar dan tidak harus meninggalkan keluarga. Sedangkan memeriksa ke luar kota, lumpsum-nya lebih kecil, harus meninggalkan keluarga, dan harus direpotkan oleh pertanggungjawaban tiket dan hotel. ”Repot dah.” Harum menutup statement-nya.
Akhirnya, Gendit hanya bisa keluar ruangan tanpa menjawab kebutuhan tiga auditorwati tersebut. Segera Gendit turun ke lantai III, ruang Biro SDM.
”Maaf pak, saya mohon agar penerimaan auditor ke depan diutamakan untuk laki-laki. Kalau tidak 100% laki-laki, maksimal hanya 10% wanita yang direkrut menjadi auditor. Kami repot pak, untuk mengatur mereka. Ada ribuan alasan baik sosiologis, emosional, kapasitas, maupun komunikasi dan terutama masalah syariat.” Gendit langsung menggelontorkan uneg-unegnya kepada pejabat Biro SDM yang tidak mau disebutkan namanya.
”Gak mungkin mas kita membatasi aksesibilitas wanita. Ini kan zamannya emansipasi wanita. Bisa dianggap merusak tatanan. Soal kapasitas misalnya, mayoritas pegawai yang lulus seleksi adalah wanita. Ini menunjukkan bahwa kualitas wanita lebih baik dibandingkan laki-laki.” Pejabat Biro SDM beralasan.
”Wanita-wanita mungkin tangguh dan pandai secara teoritis tetapi kurang dalam prakteknya. Fakta di lapangan menunjukkan hal tersebut. Misalnya dari sisi pejabat negara/struktural. Dari sembilan anggota BPK, tidak ada yang perempuan. Pejabat Eselon IA juga seluruhnya laki-laki. Tidak sampai 10% pejabat Eselon II yang wanita.” Gendit membantah simpulan pejabat Biro SDM tersebut.
”Iya juga yah... Tugas wanita yang pertama dan utama yang tidak diperselisihkan lagi memang mendidik generasi-generasi baru, bukan menjadi auditor. Mereka memang disiapkan oleh Allah untuk tugas itu, baik secara fisik maupun mental, dan tugas yang agung ini tidak boleh dilupakan atau diabaikan oleh faktor material dan kultural apa pun. Sebab, tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan peran kaum wanita dalam tugas besarnya ini. Padanyalah bergantungnya masa depan umat, dan dengannya pula terwujud kekayaan yang paling besar, yaitu kekayaan yang berupa manusia (sumber daya manusia).” Pejabat Biro SDM tersebut malah membenarkan pendapat Gendit.
”Lalu, bagaimana caranya agar BPK dapat merekrut auditor laki-laki lebih banyak dibandingkan wanita padahal hasil seleksi menunjukkan kebalikannya?” tanya pejabat tersebut.
”Banyak jalan menuju Roma pak. Tapi, karena saya belum pernah ke Roma, ya ajak saya dulu ke Roma. Nanti saya kasih tahu caranya pak....” Jawab Gendit.





1 komentar:

BIG SUGENG mengatakan...

Itu namanya emansipasi setengah hati..., kalau pas recruitmen dibedakan, nati mereka bilang diskriminatif. Pas mutasi pinginnya satu kota saja, alasannya meninggalkan anak dan suami. Padahal kalau seorang suami mutasi jauh bukankan dia akan meninggalkan istri dan anak2? Itulah dunia nyata...